View Artikel Ilmiah

Kembali
NimG1F013008
NamamhsTRI BUDI HASTUTI
Judul ArtikelAKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAGING BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP Staphylococcus aureus PENYEBAB JERAWAT
AbstrakLatar Belakang: Daging buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) mengandung beberapa senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri, salah satunya yaitu Staphylococcus aureus. Senyawa tersebut dapat diperoleh melalui proses ekstraksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi ekstraksi adalah pemilihan pelarut, dengan perbedaan pelarut yang digunakan dalam ekstraksi dapat mempengaruhi aktivitas antibakteri yang dihasilkan. Metodologi: Penelitian ini meliputi maserasi daging buah naga merah menggunakan etanol, etil asetat, dan n-heksan, skrinning kandungan senyawa kimia dalam ekstrak dengan metode KLT, dan uji aktivitas antibakteri dengan metode dilusi. Hasil Penelitian: Rendemen yang diperoleh dari ekstrak etanol daging buah naga merah yaitu 13,56%, etil asetat yaitu 0,41%, dan n-heksan yaitu 0,04%. Skrinning senyawa kimia menunjukkan ketiga ekstrak mengandung senyawa flavonoid dan steroid, sedangkan ekstrak etanol dan etil asetat mengandung tanin. Hasil aktivitas antibakteri terhadap S. aureus menunjukkan ekstrak etanol dan n-heksan memiliki nilai KHM dan KBM yang belum diketahui, sedangkan ekstrak etil asetat memiliki nilai KHM pada konsentrasi 7000 ppm dan nilai KBM yang belum diketahui. Kesimpulan: Rendemen ekstrak etanol daging buah naga merah yaitu 13,56%, etil asetat yaitu 0,41%, dan n-heksan yaitu 0,04%. Ekstrak daging buah naga merah mengandung senyawa flavonoid, steroid, dan tanin. Ekstrak daging buah naga merah menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S.aureus menggunakan pelarut etil asetat dengan konsentrasi 7000 ppm.
Abstrak (Inggris)Background: Red pitaya flesh (Hylocereus polyrhizus) contains of several compounds that has antibacterial activity for example to inhibit Staphylococcus aureus. The compounds could be obtained by extraction process. One of the influencing factor in extraction is solvent selection. The difference in solvent that used in the extraction may affect the antibacterial activity. Methodology: The study include maserated of red pitaya flesh by ethanol, ethyl acetate, and n-hexane. Screnning of chemical compounds conducted by TLC and evaluating of antibacterial activity used dilution method. Result: The yield of ethanol extract was 13,56%, ethyl actate was 0,41%, and n-hexane was 0,04%. Screnning of chemical compounds showed that three extracts contain of flavonoids and steroids, while the ethanol and ethyl acetate extracts contain of tannins. The results of antibacterial activity againts S. aureus showed that ethanol and n-hexane extracts were unknown values of MIC and MBC, while ethyl acetate extract were MIC value at 7000 ppm concentration and unknown MBC. Conclusions: The yield of ethanol extract was 13,56%, ethyl actate was 0,41%, and n-hexane was 0,04%. Red pitaya flesh extracts contain of flavonoids, steroids, and tannins. Red pitaya flesh extracts showed the inhibition activity to S. aureus with ethyl acetate solvents in 7000 ppm concentration.
Kata KunciHylocereus polyrhizus, KLT, KHM, KBM, Staphylococcus aureus
Nama Pembimbing 1Drs. Sunarto, M.S., MP
Nama Pembimbing 2Dr. Warsinah, M.Si., Apt
Tahun2018
Jml halaman10
Page generated in 0.0842 seconds.