View Artikel Ilmiah

Kembali
NimF1A013083
NamamhsGANGSAR ADI LAKSANA
Judul ArtikelSikap Masyarakat Mengenai Perda Nomor 16 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Masyarakat Di Kabupaten Banyumas
AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan sikap masyarakat mengenai Perda nomor 16 tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Masyarakat di Kabupaten Banyumas. Teori tindakan dari Herbert Mead digunakan sebagai landasan teori dalam penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik penentuan sasaran dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa sejarah di bentuknya Perda nomor 16 tahun 2015, yaitu dikarenakan banyaknya PGOT yang berkeliaran di wilayah Kabupaten Banyumas, khususnya di perkotaan seperti wilayah Purwokerto Timur. Kawasan perkotaan dianggap sebagai tempat strategis bagi para PGOT untuk mencari nafkah. Hal tersebut dianggap dapat membahayakan PGOT dan juga mengganggu lalu lintas dan ketertiban umum, oleh sebab itu dikeluarkan Perda tersebut sebagai upaya untuk menanggulangi penyakit masyarakat. Sikap masyarakat mengenai Perda nomor 16 tahun 2015 ada dua, yaitu yang tidak menerima dan menerima Perda. Masyarakat yang tidak menerima Perda berasumsi bahwa Perda tersebut bertentangan dengan kepercayaan dan hati nurani. Disisi lain, ada masyarakat yang menerima Perda tersebut, akan tetapi mereka tetap memberi kepada PGOT. Hal ini dikarenakan masyarakat merasa bahwa belum adanya solusi tepat PGOT untuk mendapat pekerjaan yang layak dan hidup lebih baik.
Abstrak (Inggris)This research was conducted with the aim to describe the attitude of the community regarding the regional regulation number 16 of 2015 about the prevention of community disease in the regency of Banyumas. The theory of action from Herbert Mead's become theoretical basis used in this study. The method used in this study is qualitative descriptive data obtained through interviews, observation and documentation. Targeting techniques of this research using purpose sampling. The results of research show that the history of the establishment of regional regulation number 16 of 2015, which is due to the many PGOT that roam the region banyumas regency, especially in urban areas such as eastern purwokerto.the urban area is considered as a strategic place for PGOT to earn a living. From the periphery of the store to the intersections of the road. It is considered to be harmful to PGOT and also disrupt traffic and public order, therefore the issuance of the regional regulations as an effort to cope with community ills. Public attitudes on regional regulation No. 16 of 2015 are two, those that do not accept and accept the regulation. The community that does not accept the regulation assumes that the regulation is contrary to the belief and conscience.people believe that giving and helping others is a good thing. This is because the community feels that there is no PGOT right solution to get a decent job and a better life.
Kata KunciSikap masyarakat, Peraturan Daerah
Nama Pembimbing 1Niken Paramarti Dasuki, S.sos M.Si
Nama Pembimbing 2Drs. Muslihudin, M.Si
Tahun2018
Jml halaman13
Page generated in 0.0898 seconds.