View Artikel Ilmiah

Kembali
NimF1D011045
NamamhsTIARA SHINTA YUNIKA HANI
Judul ArtikelFENOMENA CALON BUPATI “BAGONGAN”: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga
AbstrakDinamika yang muncul dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung di Indonesia, sebagai sebuah proses dan mekanisme politik perebutan kekuasaan secara demokratis sesungguhnya merupakan hal yang wajar dan lumrah terjadi. Namun ada suatu fenomena menarik untuk diteliti yang terjadi di Kabupaten Purbalingga dalam pilkada tahun 2015 lalu. Hal tersebut karena adanya pasangan bupati-wakil bupati yang disebut sebagai pasangan boneka atau “Bagongan”. Inilah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, apa yang melatarbelakangi munculnya fenomena tersebut dan bagaimana merekonstruksinya serta mendeskripsikannya dalam perspektif ilmu politik. Dengan judul Fenomena Calon Bupati “Bagongan”: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang munculnya calon bupati “bagongan” dalam pilkada 2015 di Purbalingga. Setelah terdeskripsikan latar belakang munculnya fenomena tersebut, selanjutnya digambarkan logika kompetisi dari sisi kandidat dan partai-partai pengusung dan pendukung di Pilkada tahun 2015 Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Untuk menjamin validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Dari hasil penelitian ternyata fenomena munculnya calon “Bagongan” telah melahirkan sebuah kontestasi politik tersendiri yang unik dan mewarnai perhelatan pilkada di Purbalingga tahun 2015. Hal ini karena stigma “bagongan” yang diberikan masyarakat kepada salah satu pasangan kandidat justru ditangkap sebagai ikon dan jargon kampanye mereka. Pasangan kandidat tersebut justru seperti membenarkan dirinya sebagai calon bagongan, mereka kemudian menamakan dirinya sebagai “Bagong Suci” dengan menampilkan gambar-gambar Bagong (tokoh wayang) dalam media-media kampanye mereka (baliho, poster, spanduk, leaflet dan lainnya). Menangkap dan mengelola isu ‘Bagongan’ ternyata kemudian terbukti menjadi strategi politik yang cerdas dan efektif, serta berhasil melakukan perlawanan sengit dengan mengelola isu yang muncul menjadi strategi kampanye yang menarik. Kontestasi politik pilkada Purbalingga juga menjadi dinamis dan unik, pasangan calon yang sedemikian kuat dengan mendominasi dukungan dan modal politik ternyata tak mudah untuk mengalahkan pasangan calon yang minim dukungan dan modal politik.
Abstrak (Inggris)The dynamism that appear in Indonesia’s Regional Head Elections (Pilkada) as a process and mechanism of democratic power struggle is actually a common practice. However, there was an interesting phenomenon happened in Purbalingga’s Regional Head Election in 2015. There was a pair of candidates that was labelled as “Bagongan” or figurehead candidates. This is very interesting to be explored further in order to know more about how such phenomenon happened and how to reconstruct or describe it using Political Science scope. Entitled Fenomena Calon Bupati “Bagongan”: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga; Bagongan Regental Candidates Phenomenon : A Case Study of 2015 Regional Head Elections (Pilkada) in Purbalingga Regent. This thesis is aimed to describe the background of how “Bagongan” candidates appeared in Purbalingga’s Regional Head Election. After the background is described, this thesis also focused on how to map the competition logic from each candidates point of view and their supporting parties in The 2015 Purbalingga’s Regional Head Election. The methods that are used in this thesis is qualitative descriptive method with using case study approach. The data are collected from observation, interview, and documentation study. Next, the data are analysed using Miles and Huberman’s Interactive Analysis Model method. To ensure the validity of the data, this research used Data Triangulation Technique. From the research, it can be concluded that the appearance of “Bagongan” phenomenon resulted a distinctive political competition and made The 2015 Purbalingga’s Regional Head Election unique. Such thing happened because the “bagongan” stigma that labelled by Purbalingga’s people to certain candidates was ironically used as their icon and jargon in their campaign. Those candidates willingly admitted that they are figurehead candidates, they even named themselves “Bagong Suci” by showing the pictures of Bagong (Javanesse Puppet figure) in their campaign medium such as billboard, poster, banner, leaflet, etc. After concluding and analyzing “Bagongan” issue, it was later proved that “Bagongan” can be used as clever and effective political strategies. This strategy also can be used to match their competitor by using this issue as an enticing political campaign strategy. The Purbalingga’s Regional Head Election also became more dynamic and unique because the stronger candidates that has a majority support from people and political power can not easily defeated the weaker candidates.
Kata KunciPilkada, Kontestasi Politik, Logika Kompetisi
Nama Pembimbing 1Andi Ali Said Akbar, S.IP., MA.
Nama Pembimbing 2Drs. Syah Firdaus, M.Si.
Tahun2018
Jml halaman14
Page generated in 0.0838 seconds.