View Artikel Ilmiah

Kembali
NimG1F012009
NamamhsDEWI OKTAVIANA
Judul ArtikelEvaluasi Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kabupaten Lebak Provinsi Banten Berdasarkan PMK Nomor 35 Tahun 2014
AbstrakLatar Belakang: Standar pelayanan kefarmasian yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 35/2014 adalah kewajiban yang harus diterapkan oleh apoteker dalam melaksanakan praktik kefarmasian di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik apotek dan gambaran penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek Kabupaten Lebak. Metodologi: Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan cross sectional terhadap 54 apotek di kabupaten Lebak yang ditentukan dengan total sampling. Responden adalah APA atau APING pada apotek tersebut. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari empat aspek sesuai dengan PMK No. 35/2014. Hasil penerapan standar pelayanan kefarmasian dikategorikan baik apabila persentase skor total 81-100%, cukup apabila persentase skor total 61-80%, dan kurang apabila persentase skor total 20-60%. Hasil Penelitian: Responden yang bersedia mengikuti penelitian sebanyak 45 apoteker dengan karakteristik apotek 60% merupakan milik PSA, 60% apotek mempunyai apoteker pendamping, dan 31% apotek menerima resep kurang dari 10 lembar setiap harinya. Aspek yang diimplementasikan dengan baik adalah aspek pengelolaan sediaan farmasi (85,42%). Penerapan aspek sumber daya kefarmasian dapat dikategorikan cukup (75,56%). Sedangkan aspek lainnya, yaitu pelayanan farmasi klinik (50%) dan evaluasi mutu pelayanan (57,22%), masuk dalam kategori kurang. Kesimpulan: Secara keseluruhan, penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek kabupaten Lebak pada tahun 2017 dapat dikategorikan cukup, dengan skor 64,16%.
Abstrak (Inggris)Background: The pharmaceutical services standard in PMK 35/2014 is an obligation that must be applied by pharmacist in carrying out the pharmaceutical practices in pharmacy. The study aimed to describe the characteristics of the pharmacies and overview the pharmaceutical service standard implementation in Lebak Residence’s pharmacies. Methodology: This research was a descriptive study with cross-sectional approach. Total sampling is done by the number of samples is 54 pharmacies at Lebak Residence, with respondents are pharmacists (APA) or co-pharmacists. The data collected by using questionnaire that consists of four aspects in accordance with PMK No. 35/2014. The result of pharmaceutical service standard implementation was categorized as good if total score presentation 81-100%, adequate if total score presentation 61-80%, and less if total score presentation ≤60%. Result: The results showed that from 45 respondents, 60% pharmacies belong to the owner of the pharmacy (PSA), 60% pharmacies have co-pharmacists, and 31% pharmacies accepted less than 10 recipes every day. The aspect that has been well implemented was drug and prescription service. Implementation of pharmacy resources aspect can be categorized as adequate. While the other aspects, including clinical pharmacy services (50%) and evaluation of service quality were in the less category. Conclusion: Generally, the average score of pharmaceutical service standard implementation in Lebak residence’s pharmacies during 2017 is about 64,16%; can be categorized as good enough.
Kata KunciStandar Pelayanan Kefarmasian, PMK No. 35/2014, Apotek, Kabupaten Lebak
Nama Pembimbing 1Vitis Vini Fera R.U., M.Sc., Apt.
Nama Pembimbing 2Laksmi Maharani, M.Sc., Apt.
Tahun2018
Jml halaman150
Page generated in 0.081 seconds.